Setiap saya membuka mata di pagi hari, maka saya tau bahwa saya diberi kesempatan kembali sama Tuhan untuk memperbaiki diri.
Mengasah hati dan logika. Mama saya sering sekali menasehati “Cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati”

Dari usia 7-29 tahun, saya menjalani kehidupan hanya mengalir saja. Hanya sekedar rutinitas tanpa memikirkan tujuan hidup saya apa.
Tidak ada visi ataupun misi yang harus saya capai. Apa yang ada di depan saya, saya jalani dan lakukan tanpa tau kenapa saya harus lakukan ini.

Yang saya tau dan pahami adalah bagaimana caranya saya tampil lebih menonjol atau lebih baik agar saya mendapatkan suatu pujian.
Ya pujian. Saya terbiasa dengan pujian. Jika mendapatkan pujian, hati saya bangga dan senang.

Hati saya tau, saya harus menjadi terang dan garam didunia ini. Tapi logika saya berjalan bersamaan dengan tuntutan dunia ini.
Ini lah pilihan saya. Saya memilih berjalan dengan segala kerumitan dan kebahagiaan semu yang ditawarkan dunia pada saya.

Saya terus berjalan mengikuti dunia. Memandang apa yang saya anggap baik & Melakukan apa yang saya anggap baik. Bagi saya, selama saya tidak melakukan kejahatan kriminal, saya sudah menjadi baik
Selama saya berjalan itu, saya berhadapan dengan banyak orang. Yang memiliki karakter yang bisa klik ataupun tidak klik dengan saya.

Jika mereka yang klik dengan saya, maka saya memilih untuk berada dekat dengannya. Dengan catatan, mereka pun harus bisa menjadi keuntungan buat saya suatu saat.
Lalu buat mereka yang tidak klik, saya memilih untuk menutup akses komunikasi yang intens. Berteman dilakukan tapi tidak menjadi dekat.

Tapi justru selama ini yang saya alami dari mereka yang saya anggap dekat dengan saya. Ternyata pun memiliki tujuan yang sama seperti saya. Jadi, kami menjadi teman dekat agar kami saling menguntungkan.
Waktu lah yang mengasah kedekatan kami, hingga terjadi konflik. Disanalah pembuktian ketulusan terjadi. Saat itu terjadi, sayangnya saya memilih ‘lari’ dari kenyataan. Dengan pikiran: “saya sudah lakukan hal baik,tapi saya diperlakukan tidak baik”

Ini lah kesulitan arti kalimat: “cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Dilema yang (mungkin akan) sering terjadi dalam proses hidup saya.